Perpisahan di Kebun Apel

B2

405 शब्द · ⁦~2⁩ मिनट पढ़ना · उच्च-मध्यवर्ती

Saat peti terakhir ditumpuk di truk, matahari Agustus sudah mulai tenggelam di balik bukit yang mengelilingi Kebun Apel Batu. Rina sudah bekerja di sana setiap musim panen sejak berusia enam belas tahun, tetapi ini adalah hari terakhirnya. Ia telah diterima di universitas di Yogyakarta dan tahu ia tidak akan kembali tahun depan. Pemilik kebun, Pak Darmawan, menjabat tangannya pagi itu dan mengatakan bahwa ia akan dirindukan. Istrinya bahkan memanggang kue lemon untuk acara itu. Namun suasana terasa hening, seolah semua orang mengerti bahwa perpisahan lebih ringan jika dibiarkan tanpa banyak kata.

Rina menghabiskan sore itu memetik apel musim akhir. Lengannya pegal karena gerakan berulang yang sudah ia biasakan selama delapan minggu terakhir. Pukul setengah lima ia berhenti sejenak untuk melihat sepasang burung layang-layang terbang rendah di antara barisan pohon. Pemandangan itu mengingatkannya pada hari pertama ia datang dengan gugup dan tidak percaya diri. Saat itu ia menjatuhkan dua keranjang penuh, membuat buah memar dan mendapat teguran halus dari mandor. Kini ia bisa mengisi satu peti dalam waktu kurang dari sepuluh menit tanpa kesalahan.

Menjelang pukul lima, pekerja musiman lain berkumpul di dekat lumbung batu tua. Andi, yang mengemudikan traktor sepanjang musim, mengeluarkan sebotol sari apel buatan sendiri yang sudah ia simpan. Mereka mengedarkan gelas plastik sementara cahaya berubah keemasan. Rina mendengar rekan-rekannya berbagi cerita tentang musim itu: hari pipa irigasi bocor, sore seorang wisatawan mencoba memanjat pohon tertinggi, dan pagi hujan es yang mengancam seluruh hasil panen. Ia menyadari bahwa ia mungkin tidak akan bertemu lagi dengan sebagian besar dari mereka.

Ketika gelas sudah kosong, Pak Darmawan muncul membawa kue lemon. Ia berterima kasih kepada semua orang atas kerja keras mereka dan mengatakan kebun itu beruntung memiliki tim yang berdedikasi. Rina merasakan sesak tiba-tiba di tenggorokannya. Ia tidak menyangka akan begitu terikat pada pekerjaan sementara ini. Saat ia membantu memuat peti terakhir ke truk pukul enam lima belas, ia bertanya-tanya apakah mahasiswa baru di Yogyakarta akan mengerti apa artinya berdiri di antara pohon-pohon saat senja dengan aroma buah matang di udara.

Kemudian, saat mengayuh sepeda pulang di jalan desa yang biasa, Rina menoleh sekali lagi. Lampu kebun sudah menyala, bersinar lembut di senja yang semakin gelap. Ia telah belajar lebih banyak di sana daripada yang ia sadari: kesabaran, kepuasan dari kerja fisik, dan kesedihan tenang yang datang ketika sesuatu yang baik mencapai akhirnya. Besok ia akan mulai mengepak barang untuk universitas, tetapi malam itu rasa kue lemon dan kenangan sari apel bersama tetap menemaninya sampai ke rumah.

क्या आपने पाठ समझा?

प्रत्येक प्रश्न के लिए एक उत्तर चुनें।

1Berapa lama Rina sudah bekerja di kebun sebelum hari terakhirnya?
2Jam berapa Rina berhenti untuk melihat burung layang-layang?
3Siapa yang mengeluarkan sebotol sari apel buatan sendiri?
4Jam berapa para pekerja selesai memuat peti terakhir?
5Apa yang dipanggang istri Pak Darmawan untuk hari terakhir Rina?

नई सुविधा का आइडिया है?

बताइए आगे क्या देखना चाहेंगे — हम हर संदेश पढ़ते हैं।

आइडिया भेजें →