Rutinitas Kerja Malam
B2Rina sudah bekerja sebagai analis senior di Bank Mandiri selama hampir empat tahun ketika ia menawarkan diri untuk mengambil shift malam tiga kali seminggu. Ia memang lebih menyukai suasana kantor yang tenang karena keramaian siang hari mulai membuatnya lelah. Setelah rekan-rekannya pulang pukul setengah enam, lantai kerja yang luas menjadi hampir sunyi kecuali dengungan pelan dari pendingin ruangan yang sudah menyala sejak pagi. Rina biasanya memeriksa catatan sistem yang tercipta selama jam sibuk dan mencatat setiap ketidakberesan yang mungkin terlewat oleh tim siang. Setelah itu ia menyiapkan laporan malam yang dikirim otomatis kepada manajer wilayah pukul dua belas.
Pada Selasa itu ia tiba lebih lambat dari biasanya karena bus yang ditumpanginya tertahan hujan deras. Begitu duduk di meja, ia sadar telah lupa membawa termos kopi, maka ia berjalan ke dapur kecil tempat secangkir kopi segar baru selesai diseduh. Sambil menunggu cangkirnya penuh, ia memikirkan kenaikan jabatan yang dijanjikan jika angka triwulannya terus membaik. Manajer kantor, Pak Budi, baru minggu lalu mengatakan bahwa tingkat ketepatannya paling tinggi di bagian itu.
Sekitar pukul delapan malam Rina menerima telepon dari petugas keamanan yang melaporkan pintu masuk utama dibiarkan terbuka oleh petugas kebersihan. Ia segera mengaktifkan kunci elektronik dari komputer dan mencatat kejadian itu dalam buku log. Pukul setengah sepuluh ia sudah menyelesaikan rekonsiliasi akhir transaksi valuta asing yang terkumpul sejak pasar Eropa tutup. Puas dengan angka yang bersih, ia mengambil istirahat singkat dan memakan roti lapis yang dibawanya pagi tadi.
Tak lama setelah pukul sepuluh ia memulai prosedur cadangan data yang berjalan hingga pukul sebelas lima belas. Selama waktu itu gedung hampir kosong; hanya penjaga malam yang masih ada di lantai dasar. Rina sudah terbiasa menikmati jam-jam sendirian ini karena memberinya ruang untuk memikirkan model analisis baru yang ingin ia usulkan jika bank menyetujuinya. Ketika cadangan data selesai dengan lancar, ia mematikan monitor, mengumpulkan barang-barangnya lalu menuju lift. Saat melangkah ke udara malam yang sejuk pukul setengah dua belas, ia berpikir bahwa shift malam, meski melelahkan, telah menjadi bagian paling produktif dalam minggunya.