Akhir Musim Panen

B1

213 slov · ⁦~1⁩ min čítania · Stredne pokročilý

Musim kemarau tahun lalu saya bekerja di kebun buah kecil dekat desa Cisarua. Setiap pagi kami memetik apel dan jeruk sampai matahari terasa terlalu terik. Pada hari terakhir suasana terasa berbeda. Saat kami memuat peti terakhir ke truk merah tua itu, awan gelap muncul tiba-tiba dan hujan lebat mulai turun. Kami sudah memetik hampir semua buah, tetapi beberapa keranjang masih tertinggal di ladang sebelah. Pemilik kebun, Pak Wijaya, berteriak agar kami cepat sebelum tanah berubah menjadi lumpur.

Ketika kami berlari kembali membawa keranjang, teman saya Lina terpeleset dan menjatuhkan beberapa jeruk. Kami berhenti untuk membantunya sambil tertawa meski hujan deras. Setelah selesai, pakaian kami basah kuyup. Pak Wijaya sudah menyiapkan makan siang perpisahan kecil di dalam gudang. Sambil makan roti isi dan minum es jeruk, dia memberi tahu kami bahwa tahun depan kebun akan dijual. Semua menjadi diam sejenak. Saya sudah mulai menyukai pagi-pagi buta dan aroma buah matang, tetapi saya tahu ini akhirnya.

Setelah makan kami membersihkan alat dan berpamitan. Saat saya berjalan menuju gerbang, Lina berseru semoga kami bisa bekerja bersama lagi suatu hari. Saya tersenyum dan menjawab jika cuaca tetap kering musim kemarau depan, saya akan mempertimbangkan kembali. Hujan akhirnya berhenti saat saya tiba di halte bus. Menoleh ke kebun yang kosong, saya sadar betapa saya akan merindukan hari-hari panjang yang melelahkan itu.

Rozumeli ste textu?

Vyberte jednu odpoveď pre každú otázku.

1Di dekat desa mana kebun buah itu berada?
2Warna apa truk yang dimuat para pekerja?
3Apa yang dijatuhkan Lina saat berlari di tengah hujan?
4Di mana Pak Wijaya menyajikan makan siang perpisahan?
5Apa yang dikatakan Pak Wijaya akan dilakukannya tahun depan?

Máte nápad na funkciu?

Povedzte nám, čo by ste chceli vidieť ako ďalšie — čítame každú správu.

Poslať nápad →